25 November 2014

Pengertian Konflik

Jalurberita.com - Konflik adalah suatu tindakan permusuhan antara dua pihak (antar perorangan atau antar kelompok) yang terwujud sebagai tindakan saling menghancurkan untuk memenangkan suatu tujuan tertentu. Tujuan tertentu tersebut bisa berupa sumber-sumber daya dan rezeki, kehormatan jati diri atau kelompok, atau karena kesemuanya itu, seringkali pihak-pihak yang sedang berada dalam semangat konflik lupa akan tujuan utama yang ingin dicapai. Karena dalam keadaan konflik, yang menjadi tujuan utama dari mereka adalah menghancurkan pihak lawan. (Hubungan Antar Sukubangsa, Pasurdi Suparlan,2004).

Pada dasarnya terjadinya konflik dikarenakan adanya suatu kepentingan yang harus dipenuhi oleh setiap kelompok. Dalam pemenuhan kepentingan itu kadang-kadang suatu kelompok akan mengorbankan kepentingan kelompok lainnya. Usaha pemenuhan kepentingan dengan mengorbankan atau adanya pihak lain yang merasa dirugikan dapat merupakan potensi timbulnya konflik antar kelompok/etnis. Kelompok yang dirugikan merasakan adanya suatu ketidakadilan terhadap kepentingan-kepentingannya baik itu jati dirinya, kehormatan, kerugian material atau ketidakpuasan secara umum.

Secara hipotetis konflik antar etnis dapat dicegah bila dalam pemenuhan kepentingan suatu kelompok terdapat aturan-aturan main yang adil dan beradab serta adanya pihak ketiga yang netral yang tidak memihak serta dapat dipercaya oleh semua kelompok betul-betul menerapkan aturan-aturan main tersebut. Dalam penyelesaian masalah konflik antar etnis perlu adanya suatu pendekatan yang menjadi landasan bagi pihak-pihak yang bertikai. Salah satu diantaranya adalah pendekatan hukum yang titik sentralnya adalah upaya-upaya pencegahan dan penangkalan serta penindakan.

Konflik yang mengakar adalah konflik yang berasaldari dalam Negara,mengkombinasikan dua elemen yang kuat yaitu : Faktor identitas yang kuat berdasarkan perbedaan dalam ras, agama,kultur, bahasa dan seterusnya dengan pandangan ketidak adilan dalam distribusi sumber-sumber daya ekonomi, politik dan sosial.

Dilihat dari sebab terjadinya konflik, maka konflik itu sendiri disebabkan adanya beberapa perbedaan permasalahan antara lain :

- Perbedaaan struktur sosial ekonomi yang mengakibatkan kecemburuan sosial yang sangat tajam dan kontradiktif.

- Adanya perbedaan budaya, kultur dan adat kebiasaan yang kuat /fanatisme atau adanya kesulitan/ketidak mauan untuk menyesuaikan adat dan budaya setempat.

- Diawali dengan persoalan pribadi berupa perkelahian, penganiayaan dan atau pembunuhan.

- Adanya pihak/kelompok tertentu yang mengkondisikan dalam rangka untuk mencapai maksud dan tujuan tertentu.

- Adanya watak dan temperamen yang tinggi.

- Tingginya rasa solidaritas etnis.


Penyelesaian konfilk perlu dilihat dan diteliti dahulu faktor-faktornya, yaitu :

1. Aktor, siapakah yang menjadi aktor internal dan eksternal dalam konflik tersebut?

2. Isu, isu apa yang terlibat dalam konflik?

3. Penyebab, apa yang menyebabkan konflik?

4. Lingkup, bagaimana besarnya akibat konflik tersebut, baik dalaam maupun diluar daerah konflik?

5. Usaha yang pernah dilakukan dalam penyelesaian, bagaimana langkah-langkah yang pernah dilakukan dalam penyelesaian konflik tersebut?

6. Fase dan intensitas, apakah konflik ini memiliki fase-fase yang jelas? Dan apakah intensitas meningkat seiring waktu?

7. Perimbangan kekuatan, bagaimana sifat dan besarnya perimbangan kekuatan antara pihak-pihak itu ?

8. Kapasitas dan sumber daya, apa kapasitas dan sumber daya pihak-pihak yang terlibat ?

9. Keadaan hubungan, bagaiman sifat-sifat hubungan antara pihak-pihak yang bertikai ?

(Demokrasi dan konflik yang mengakar, sejumlah pilihan untuk negosiator, Peter Harris, 2000).


Dalam penanggulangan konflik antar etnis setelah dicari faktor-faktor yang menjadi penyebabnya, perlu dilakukan beberapa tahap Cara Bertindak yaitu :

1. Deteksi dini

Melakukan deteksi/penyelidikan untuk mengetahui kemungkinan adanya potensi konflik dan apabila sudah terjadi untuk mengetahui akar permasalahan yang menyebabkan terjadinya konflik serta untuk mengetahui aktor yang menimbulkan terjadinya konflik kemudian dilaporkan kepada pimpinan, melakukan kontra isu untuk meredam keresahan masyarakat dan melakukan penggalangan terhadap warga masyarakat tertentu yang berpengaruh untuk dapat membantu meredam terjadinya konflik.

2. Pre-emtif

Yaitu bertujuan untuk mengeliminir potensi konflik sejak dini dan harus menyentuh akar-akar konflik etnis yang mengendap pada kehidupan masyarakat dengan pemberdayaan pada kehidupan masyarakat itu sendiri. Hal ini dapat dilakukan dengan penggalangan antara tokoh masyarakat, agama, pemuda melalui pertemuan-pertemuan agar dapat menahan diri dan meredakan emosi kelompoknya.

3. Preventif

Yaitu bertujuan untuk mencari dan menemukan penyebab terjadinya konflik serta melakukan upaya pencegahan. Hal ini dapat dilakukan melalui pemberian informasi yang berimbang atau pengakuan-pengakuan pendapat pada setiap kelompok guna dicari penyelesaiannya.

4. Represif

Yaitu melakukan tindakan untuk mencegah konflik tidak berkembang pada tataran yang lebih luas. Hal ini dapat dilakukan dengan penanganan setiap kriminalitas atau konflik yang terjadi secara cepat, tepat, benar dan tuntas serta tidak ada keberpihakan pada salah satu kelompok yang bertikai.

5. Rehabilitasi

Yaitu melakukan pengamanan dan mengevakuasi korban

konflik ketempat yang lebih aman serta melakukan upaya-upaya perdamaian diantara kedua belah pihak yang terlibat konflik. Perdamaian antar etnis atau suku bangsa yang pernah terjadi konflik tidaklah mudah dalam penanganannya, hal ini disebabkan setelah berhentinya konflik antar etnis ini masing-masing pihak yang bertikai akan menyimpan rasa dendam, sakit hati atau juga adanya rasa kemenangan yang pernah dialami selama konflik antar etnis berlangsung.

Kesemuanya ini berpengaruh terhadap cara masing-masing anggota kolompok/etnis yang berlawanan tersebut melihat diri mereka dan lawan mereka masing-masing. Kemauan untuk saling berdamai bukan hanya dilakukan oleh para tokoh atau pemimpin dua kelompok/etnis yang bertikai, tetapi juga harus dilakukan oleh semua anggota kelompok yang bersangkutan serta adanya pihak ketiga (perorangan atau organisasiataupun pemerintah sendiri) yang dipercaya oleh kedua belah pihak.

Penanganan konflik yang selama ini dilaksanakan baru pada tahap meredam gejala-gejala yang timbul dipermukaan, namun belum mampu menyelesaikan akar permasalahan dan dampak dari konflik yang terjadi tersebut, contohnya :

· Pengungsi yang belum dapat kembali ketempat asalnya

· Harta Benda pengungsi baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak masih belum jelas status hukumnya.

· Rasa dendam yang berkepanjangan

· Terganggunya integritas sosial pihak-pihak yang bertikai.

· Adanya rasa khawatir dan takut kemungkinan konfik antar etnis bisa terjadi lagi.

No comments: