25 November 2014

Pelaksanaan Community Policing Di Beberapa Negara Maju

Jalurberita.com - Sebenarnya banyak negara maju yang telah menerapkan Community policing, seperti Kanada, Inggris, USA, dsb. Namun sekedar untuk memberi gambaran, berikut disajikan apa yang dilaksanakan di Jepang dan Singapura.

Pelaksanaan Community Policing di Jepang

Filosofi yang mendasari diterapkannya community policing di Jepang adalah untuk mengurangi dan menghapus rasa cemas penduduk terhadap kriminalitas dan pelanggaran hukum, memperbaiki dan memperkuat kesadaran solidaritas penduduk, meningkatkan kemampuan badan pemerintah dalam pengontrolan, serta memelihara infrastruktur pencegahan kriminalitas, serta menemukan solusi pemecahannya.

Tujuan utama community policing di Jepang adalah untuk menjamin keselamatan dan ketentraman dalam suatu kelompok masyarakat dengan menjaga keadaan agar waspada terhadap segala bentuk ancaman dan gangguan kamtibmas serta membantu mengatasi permasalahan kepolisian dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu setiap polisi harus mampu mengetahui kebutuhan masyarakat, menjalin hubungan dengan masyarakat, dan mengetahui kegiatan masyarakat sehari-hari, serta lebih berorientasi pada kegiatan yang sifatnya pencegahan, namun tanpa meninggalkan kegiatan yang bersifat penanggulangan.

Untuk mencapai tujuan tersebut Dinas Kepolisian Jepang telah membentuk Divisi Community police yang berada di bawah Departemen Keselamatan Masyarakat dengan tugas khusus menangani hubungan polisi dan masyarakat. Atas dasar ini, maka setiap kantor polisi di masing-masing wilayah (setingkat Polres) memiliki seksi community police, yang beberapa anggotanya bekerja di unit cabang lain seperti di unit patroli, komunikasi, informasi, dan yang lainnya.

Dalam Seksi community police selanjutnya terdapat dua unit, yaitu Koban (Pos Polisi) dan Chuzaisho (Pos Rumah), dengan asumsi bahwa Koban dan Chuzaisho merupakan unit yang paling mendasar bagi terjaminnya keselamatan dan ketentraman masyarakat, sehingga saat ini sebanyak 40% dari jumlah polisi Jepang bertugas di bagian ini.

Berdasarkan konsep community policing, kegiatan di lingkungan masyarakat dilakukan melalui :

Pos Keamanan, terutama di tempat-tempat keramaian, tempat strategis, serta tempat yang rawan kriminalitas. Polisi yang bertugas di Pos keamanan ini bertugas untuk membantu Koban maupun Chuzaisho dengan berdiri untuk mengawasi daerah yang menjadi tanggung jawabnya.

Koban Keliling, yaitu berupa mobil van yang dilengkapi dengan meja kursi dan berfungsi sebagai markas sementara, diparkir pada daerah tertentu dengan tugas membantu Koban maupun Chuzaisho

Koban Khusus, yaitu sama dengan Koban Keliling namun ditempatkan di daerah dengan tingkat keramaian yang sifatnya musiman.

Koban (Pos Polisi)

Koban merupakan Sub-Unit Kantor Polisi sebagai fondasi kegiatan community police yang penyebaran dan penempatannya tergantung pada jumlah/kepadatan penduduk, jumlah angka kecelakaan, tingkat kejahatan maupun kebijakan pejabat setempat, serta berkedudukan di wilayah perkotaan. Pembentukan Koban di setiap wilayah dilakukan oleh masing-masing wilayah kepolisian sehingga pembentukannya tidak ada standarisasi.

Penugasan, Titik berat penugasan Koban adalah pelayanan kepada masyarakat, membina hubungan baik dengan masyarakat, melakukan penanganan tingkat pertama pada kejahatan dan kecelakaan lalu lintas, sebelum ditangani oleh fungsi yang lebih kompeten.

Petugas , Petugas Koban bekerja dalam sistem shief, yang masing-masing shief berjumlah antara 3 sd. 8 orang, tergantung pada tingkat kerawanan wilayah. Tiap shief bertugas selama 1 x 24 jam, dengan waktu istirahat 8 jam setiap jaga yang diatur secara bergiliran dan setelah berdinas mendapat istirahat 2 x 24 jam. Tiap shief dipimpin oleh Kepala Regu berpangkat Pembantu Letnan/Sersan yang dapat merangkap sebagai Kepala Blok. Sistem Blok ini diterapkan agar terjadi saling membantu diantara petugas Koban.

Bentuk bangunan, Bentuk bangunan Koban bervariasi sesuai dengan karakteristik wilayah, namun umumnya terdiri dari dua lantai. Lantai pertama terdiri dari ruang pelayanan, adminsitrasi, komunikasi, penyimpanan barang, ruang makan, dapur dan kamar mandi/wc. Sedangkan untuk lantai atas untuk ruang pertemuan dan istirahat.

Peralatan, Untuk mendukung pelaksanaan tugas, peralatan yang tersedia di masing-masing Koban sudah cukup lengkap, modern, dan memadai baik alat-alat untuk transportasi, komunikasi, maupun adminsitrasi, termasuk alat-alat untuk kepentingan operasional, seperti olah TKP dan sebagainya.

Metode kerja, Metode kerja Koban dilakukan melalui sistem Blok. Satu blok terdiri dari dua Koban atau lebih yang wilayahnya berbatasan, dengan tujuan untuk saling membantu, dengan kepala Blok dirangkap oleh salah seorang Kepala Regu Jaga. Petugas jaga di depan pintu dilakukan secara bergiliran untuk melakukan pengawasan sekitar dan siap membantu apabila ada orang yang memerlukan bantuan.

Sedangkan untuk kegiatan Patroli dilakukan dengan sepeda maupun jalan kaki, dengan kegiatan mengunjungi rumah warga, kampanye keselamatan lalu lintas dan pencegahan kejahatan,. Layanan konsultasi keamanan, razia kepada pelanggar peraturan lalu lintas, menangani tipiring, maupun mendatangi TKP dan melakukan tindakan tingkat pertama.

Chuzaisho (Pos Rumah)

Chuzaisho pada prinsipnya hampir sama dengan Koban, namun ditempatkan di wilayah pedesaan, pertanian, nelayan, atau yang petugasnya berhubungan langsung dengan masyarakat di wilayahnya, sehingga berada pada garis terdepan dan aktifitasnya tak dapat dipisahkan dari aktifitas masyarakat sehari-hari.

Untuk ditunjuk menjadi seorang Chuzaisan (petugas Chuzaisho) dilakukan melalui penilaian yang ketat, baik dalam aspek psikologis, sosial, maupun emosional dan kepribadian, termasuk harus ada kesediaan dari pihak istri. Karena seorang Chuzaisan harus betul-betul menjadi panutan masyarakat, termasuk dalam membina hubungan rumah tangga.

Untuk menjadi seorang Chuzaisan minimal berpangkat Sersan Senior atau Sersan dan tidak memerlukan persyaratan pendidikan khusus, namun kedekatan Chuzaisan dengan penduduk merupakan salah satu parameter keberhasilan tugasnya. Parameter ini senantiasa dikontrol oleh pimpinan Chuzaisan dengan cara mendatangi penduduk secara langsung untuk menanyakan kinerjanya sehingga terjamin obyektivitasnya.

Berbeda dengan Koban, seorang Chuzaisan harus bekerja sendiri, sehingga untuk kelancaran pelaksanaan tugasnya harus dekat dengan masyarakat. Dalam pelaksanaan tugasnya sehari-hari seorang Chuzaisan dibantu oleh istrinya, terutama pada saat suaminya berada di luar kantor dan untuk tugas pelayanan pada masyarakat, seperti mencatat laporan, memberikan saran-saran, menjawab pertanyaan dan konsultasi masyarakat, dan sejenisnya. Namun untuk hal-hal terkait dengan kejahatan tetap menjadi tanggung jawab suami. Peran istri dalam membantu tugas suami dalam hal ini dihargai pemerintah dengan mendapat tunjangan sebesar 80.000 yen per bulan, dan bonus setiap enam bulan sekali sebesar satu kali gaji.

Untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas setiap Chuzaisho dilengkapi dengan bangunan dua ruang, dengan ruang belakang untuk tempat tinggal dan ruang depan untuk kantor lengkap dengan berbagai fasilitas, bahkan termasuk alat sensor infra merah yang dapat memberi isyarat apabila ada orang yang masuk dan dapat diketahui dari monitor di rumah. Disamping itu, apa yang terjadi di Chuzaisho juga dapat diketahui dari layar monitor di Kantor Polisi, sehingga kinerja Chuzaisan di Chuzaisho dapat terawasi setiap saat.

Pelaksanaan Community policing di Singapura
Pelaksanaan Community policing di Singapura oleh Kepolisian Singapura (Singapore Police Force - SPF) dilakukan dengan mengadopsi sistim Koban di Jepang, melalui pembentukan Pos Polisi Lingkungan (Neighbourhood Police Post – NPP) sejak tahun 1983 dan sejak tahun 1996 NPP tersebut telah dikembangkan menjadi Pusat Polisi Lingkungan (Neighbourhood Police Centre - NPC), dengan fungsi sebagai pusat pelayanan dan pemeliharaan ketertiban masyarakat, melalui penyediaan segala pelayanan kepolisan yang berupa kegiatan respon kepolisian yang cepat (quick response), seperti patroli, investigasi, pelayanan masyarakat, laporan pengaduan masyarakat, maupun kegiatan lain berupa kunjungan ke rumah-rumah.

No comments: