07 September 2014

Mengeliminir Kecelakaan Dan Pelanggaran Lalu Lintas

Jalurberita.com - Kamseltibcar lantas merupakan rangkaian kata yang berurutan sistem dan mengandung arti yang akan dicapai Polantas dalam mengemban amanat UU No. 2 tahun 2002 dan UU No. 22 tahun 2009 sehingga mobilitas manusia dan barang dengan kendaraan bermotor yang berkembang begitu cepat sebagai akibat peningkatan kesejahteraan dan kemajuan teknologi transportasi tidak menimbulkan kerugian pada manusia sebagai objek dalam perkembangan pembangunan yang sedang berlangsung.


Sikap tidak disiplin dan pelanggaran tata tertib lantas pada umumnya terjadi karena faktor manusia, yang menurut penggiat LSM berupa konsep diri pada diri individu, budaya berlalu lintas yang baik dapat berhasil bila masyarakat pengguna jalan memiliki konsep diri untuk mengikuti aturan dalam berlalu lintas, mau untuk dibina dengan membangun kesadaran disiplin berlalu lintas sehingga tercapai tujuan bersama yaitu kamseltiblantas melalui budaya berlalu lintas dengan baik dan benar. 

Namun pada kenyatannya disiplin masyarakat yang tertib di jalan hanya dilakukan apabila ada petugas saja dan berlaku seenaknya apabila tidak ada petugas, hal ini memperlihatkan bahwa budaya masyarakat yang tidak disiplin dan tidak ada rasa tanggung jawab untuk bersama-sama memelihara dan menjaga sarana dan prasarana yang ada, sehingga tidak jarang merusak halte dengan mencoret-coret atau parkir diatas city walk, sehingga merusak sarana umum dan lain-lain.

Masalah kemacetan arus lalu lintas bukan merupakan tugas dan tanggung jawab Polri saja melainkan juga masyarakat bersama instansi terkait dibidang perhubungan dasar atau transportasi angkutan darat khususnya angkutan jalan raya. Dalam  Renstra Polri 2010-2014 yang telah masuk pada tahap II partnership building (pembinaan kemitraan), maka salah satunya dengan kemitraan Dishub sebagai bagian dalam melaksanakan aturan yang berlaku tentang Lalu Lintas.

Dalam mengeliminir kecelakaan dan pelanggaran lalu lintas yang masih tinggi, maka dibutuhkan kerja keras dari berbagai stakeholders, sehingga dapat meningkatkan masyarakat patuh hukum berlalu lintas yang diharapkan. Untuk mengeliminir tersebut dapat di urai dari berbagai aspek diantaranya :

Dari aspek pengetahuan dengan meningkatnya pemahaman personel mengenai peraturan perundang-undangan yang terkait dengan lalu lintas,  meningkatnya pengetahuan personel terhadap cara penindakan yang baik kepada masyarakat sehingga personel lebih mengedepankan penegakan hukum dengan mendidik masyarakat pelanggar lalu lintas untuk lebih tertib di jalan raya, meningkatnya pengetahuan personel mengenai cara/tindakan yang tepat untuk membina dan mendidik masyarakat agar tertib berlalu lintas.

Dari aspek Keterampilan dengan meningkatnya keterampilan dalam berkomunikasi dengan masyarakat sehingga memudahkan menyerap informasi serta pesan-pesan mengenai kamseltibcar lantas tidak sampai kepada masyarakat. Meningkatnya keterampilan mengajak/mempengaruhi masyarakat agar patuh hukum di jalan raya. Meningkatnya keterampilan dalam menilai suatu masalah yang timbul dilapangan sehingga analisa di lapangan produktif, karena anggota Polantas peduli terhadap pelanggaran yang dilakukan pengguna jalan.

Dari aspek prilaku dengan cara melakukan sikap dan perilaku anggota Polantas di lapangan menarik simpati pada masyarakat.Setiap perilaku anggota Polantas sudah sesuai dengan prosedur, sehingga tidak ada alasan bagi anggota untuk menarik pungutan dari masyarakat. anggota Polantas tidak hanya mencari-cari kesalahan pengendara kendaraan dan lain-lain lebih pada pola pembinaan dan pendidikan.