01 March 2013

Stategik Kepemimpinan Meningkataan Kinerja

Jalurberita.com Kepemimpinan strategik yang lebih lazim disebut juga kepemimpinan visioner harus mampu berpikiran menuju masa depan dan memiliki kepemimpinan yang efektif dan komunikatif, untuk itu menurut penulis  dibutuhkan empat keseimbangan. Pertama pemimpin harus berhubungan secara terampil  dengan pimpinan dibawahnya dan anggota dalam berorganisasi yang pada umumnya anggota oragnisasi atau bawahannya mengharapkan bimbingan, dorongan dan motivasi.
Kedua pimpinan harus memanfaatkan lingkungan eksternal secara maksimal dan berhubungan secara terampil dengan pihak-pihak di luar organisasi sehingga dapat mempengaruhi keberhasilan organisasinya. Ketiga pemimpin harus mampu membentuk dan mempengaruhi semua aspek organisasi sesuai dengan harapan undang-undang yang berlaku dan mengikat perusahaan dan intansi.
Keempat pemimpin harus cerdik dalam menyiasati masa depan, yaitu memperkirakan dan menyiapkan perkembangan yang cenderung memiliki implikasi kritis terhadap organisasi. Sebagai pemimpin yang bersipat kepemimpinan strategik harus memiliki kreatifitas  dan inovasi dalam rangka menemukan solusinya.
Berkaitan dengan hal tersebut maka dalam tulisan ini penulis mencoba menerapkan 11 prinsip yang dikemukakan oleh  Casey Fitts Hawley dalam bukunya ”201 cara untuk mendorong setiap karyawan berkinerja bintang”. Memberikan gambaran bagaimana caranya meningkatkan kinerja karyawan sehingga lebih berproduktif dalam mendorong pertumbuhan sebuah perusahaan. Menurut pandangan penulis, ada titik kesamaan antara karyawan, buruh, Pemda, aparat kepolisian dan lainya. Sama-sama memiliki tujuan meningkatakan kinerja organisasi. Adapun upaya dalam meningkatkan kinerja organisasi yang didasarkan kepada 11 prinsip yang kemukakan oleh Casey Fitts Hawley adalah sebagai berikut :
Tidak ada orang yang menerima suatu pekerjaan untuk gagal.
Seorang Pimpinan memberikan tanggung jawab kepada setiap karyawan, personil dan personil akan mengambil tanggungjawabnya dengan harapan besar dapat sukses melaksanakan tugasnya. Jika salah satu personil tersebut tidak sukses, berarti ia kekurangan salah satu dasar pemicu kinerja yang dapat mendorong personil tersebut meraih kesuksesan. Pemicu kinerja personil, antara lain : (a) Kejelasan kinerja yang dibebankan kepada personil, karyawan atau kejelasan apa yang harus dikerjakan oleh seorang personil, karyawan. (b) Gambaran yang jelas mengenai seperti apa kinerja yang bagus atau sesuai dengan harapan / keinginan pimpinan / organisasi . (c) Adanya pemahaman bahwa ada kesenjangan antara kinerjanya dan kinerja yang diharapkan pimpinan / organisasi.
Orang termotivasi oleh dua hal : ketakutan atas hukuman dan harapan akan imbalan.
Seorang pimpinan harus mampu menciptakan bentuk kepemipinan yang menjadikan personil menjadi takut kalau-kalau terkena hukuman dan mampu memberikan harapan akan imbalan akibat dari kinerja yang diberikan personil kepada organisasi. Dengan adanya rasa ketakutan atas hukuman dan harapan akan imbalan maka kinerja organisasi akan meningkat.
Masalah kinerja kecil yang diabaikan sejak awal akan menjadi masalah besar dan dapat menulari karyawan yang berkinerja bagus. Seorang pimpinan organisasi harus mampu memberikan koreksi kepada personil / bawahannya yang memperlihatkan kinerja buruk atau diluar etika profesi sehingga tidak menulari kepada personil lainya.
Jika anda melakukan apa yang selalu anda lakukan, anda akan mendapatkan apa yang selalu anda dapatkan.
Seorang pimpinan organisasi hendaknya tidak anti terhadap pendekatan baru untuk mengubah perilaku dan meningkatkan kinerja. Dewasa ini, harapan seorang personil tinggi. Tidak puas dengan hanya menduplikasi kinerja di masa lalu. Organisasi mencari berbagai cara untuk mendapat produktivitas yang lebih tinggi. Abraham Moslow, pendiri cabang ilmu perilaku, pernah berkata, ”Bagi orang yang hanya mempunyai palu, segala sesuatu akan tampak seperti paku.” Demikian pula, jika seorang pimpinan telah mencapai hasil kinerja dengan lima metoda yang sama selama bertahun-tahun, pimpinan tersebut akan mengira bahwa kelima metoda itu menyimpan jawaban terhadap semua masalah kinerja.
Setiap orang ahli dalam satu bidang, kuncinya adalah menemukan apa yang menjadi keahlian setiap orang.
Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan pimpinan untuk meningkatkan kinerja adalah dengan mengubah lingkungan, peralatan, penugasan, atau sejumlah faktor eksternal lain  dan bukan mengganti personil, karyawan. Pimpinan lebih diarahkan untuk menyelaraskan tugas dengan ’bakat alam’ personil. Jika seorang pimpinan melihat bawahanya lebih ahli dibidang mediasi, maka tempat ia sebagai ahli terdepat ketika terjadi unjuk rasa. Baik unjuk rasa perburuhan, Pemilu dan lainya.
Anda tidak dapat memuaskan seorang bos atau pimpinan yang tidak tahu apa yang diinginkannya.
Seorang pimpinan harus mampu mendiskrpsiskan mengenai keinginan  pimpinan tersebut kepada personilnya. Dalam hal ini meminta personil untuk memenuhi kinerja yang diharapkan tanpa deskripsi yang jelas mengenai seperti apa kinerja yang ’baik’ itu, serupa dengan meminta seorang pemanah membidik lingkaran tengah tetapi melarangnya melihat targetnya. Pertama, para pimpinan harus memahami citra yang konkret tentang seperti apa kinerja yang baik itu dan kemudian memberi gambaran kepada personil. Baik legalitas hukumnya, jenjang kariernya dan lainya. Bagi sejumlah personil, memberikan gambaran yang jelas tentang kinerja yang baik adalah satu-satunya yang dibutuhkan.  
Kadang-kadang tindakan yang terbaik adalah tidak bertindak sama sekali
Pimpinan disarankan berhenti sejenak dan mempertimbangkan pilihan yang sangat berharga untuk tidak bertindak sama sekali. Sejumlah perilaku anggota yang tidak produktif bersifat temporer dan merupakan akibat dari situasi tertentu di tepat kerja atau di rumah. Jika anggota tersebut telah terbukti berharga di masa lalu, membiarkannya mengoreksi perilakunya sendiri mungkin adalah tindakan yang paling efisien untuk mengembalikannya pada kinerja puncak. Seorang pimpinan harus mampu menguasai psikologi personilnya, sehingga tahu bentuk karakter dari setiap personil yang menjadi bawahnya.
Menangkap basah atau melihat dengan kepal sendiri orang yang sedang melakukan sesuatu yang benar.
Betapa mudahnya nenunjuk kelemahan dan ketidaksempurnaan kinerja dan betapa sulitnya menunjukkan bahwa seorang anggota bekerja dengan baik. Pada tahun-tahun belakangan, manajemen telah menyadari bahwa fokus berulang pada kesalahan karyawan akan menanamkan gambaran kinerja yang buruk dalam benak anggota. Akan lebih efektif untuk menunjukkan kinerja yang bagus, mengakuinya dan membesar-besarkannya. Dengan terus menunjukan prestasi yang besar, maka harapan akan mengulang kembali tentang prestasi tersebut akan tercapai.
Anda akan mendapatkan kinerja yang lebih hebat dengan bekerjasama daripada dengan menginjak orang lain.
Kepemimpinan yang aktif dan kuat merupakan sesuatu yang penting, namun sikap menghargai kemitraan dan komunikasi yang selalu dua arah  merupakan sikap yang tidak kalah penting. Kemitraan adalah satu-satunya cara untuk mencapai kinerja puncak dalam jangka panjang.
Perlakukan yang berbeda untuk orang yang berbeda.
Salah satu revolusi paling berharga pada dekade terakhir dalam bidang pendidikan adalah penerapan berbagai gaya belajar untuk mencapai hasil yang lebih efektif. Pemimpin Polres haruslah pandai dalam mengamati anggotanya, apakah seorang anggotanya berbakat di lapangan, pembuat sistem, pandai berbicara ataupun kecondongan-kecondongan lainnya.
Anda tidak boleh ”ngomong doang” anda harus terjun langsung.
Seorang pimpinan harus menjadi leader dalam segala kegiatan yang di programkannya.  Anggota atau personil dewasa ini mengharapkan otentisitas dalam diri pemimpin. Jika pimpinan meminta standar yang tinggi, baik dalam etika, produksi, atau kualitas, maka pimpinan juga harus mendemonstrasikan komitmennya terhadap standar tersebut. Gambar inset google

No comments: