01 March 2013

Kepemimpinan Strategik dan Potensi Konflik

Jalurberita.com - Kepemimpinan strategik yang lebih lazim disebut juga kepemimpinan visioner harus memiliki kepemimpinan yang efektif dan untuk itu dibutuhkan empat keseimbangan. Pertama pemimpin harus berhubungan secara terampil  dengan pimpinan dibawahnya dan anggota dalam organisasi yang mengharapkan bimbingan, dorongan dan motivasi. Kedua pimpinan harus memanfaatkan lingkungan eksternal secara maksimal dan berbungan secara terampil dengan pihak-pihak di luar organisasi yang mempengaruhi keberhasilan organisasinya. Ketiga pemimpin harus mampu membentuk dan mempengaruhi semua aspek organisasi. Keempat pemimpin harus cerdik dalam menyiasati masa depan, yaitu memperkirakan dan menyiapkan perkembangan yang cenderung memiliki implikasi kritis terhadap organisasi. Sebagai pemimpin yang bersipat kepemimpinan strategik harus memiliki kreatifitas  dan inovasi dalam rangka menemukan solusinya.
Dengan pengalaman-pengalaman menghadapi aksi unjuk rasa, mobilisaasi massa dan lainya, sudah barang tentu harus lebih waspada dan penuh kecermatan dalam menganalisa internal organisasi maupun lingkungan strategiknya. Oleh sebab itu seorang pemimpin strategik harus memiliki langkah-langkah strategik yang visioner.  dalam menghadapi permasalahan yang muncul menjelang Pemilu 2014, antara lain   :
Melakukan kegiatan Preemtif, yaitu mengadakan penyuluhan dan pembinaan kepada masyarakat khususnya simpatisan yang sangat loyal terhadap sebuah partai, pembinaan ini dilakukan oleh Polri sebagai upaya membangun kesadaran berpolitik sesuai aturan yang berlaku dan agar senantiasa  terintegrasi guna menciptakan keamanan dalam negeri (kamdagri)
Kegiatan pre-emtif ini juga dilaksanakan melalui upaya pemberdayaan masyarakat yang terakomodasi dalam sebuah konsep “Community Policing “ dimana masyarakat didisaint untuk dapat berperan sebagai polisi di wilayahnya masing-masing.
Melakukan Preventif dengan Antisipasi ini dijalankan melalui konsep penjagaan dan patroli serta melakukan upaya  pemberdayaan masyarakat. Kegiatan seperti ini dijalankan oleh Polri sebagai upaya mewujudkan jati dirinya sebagai pelayan dan pengayom masyarakat.
Kegiatan antisipasi ini, selanjutnya dilaksanakan melalui  upaya membangun sebuah  hubungan yang sejuk dan harmonis antara pengurus partai dengan polri, simpatisan dengan polri, lsm dengan polri atau masyarakat dan Kepolisian, sehingga  Polri mampu merekam segala keresahan yang terjadi ditengah-tengah warga untuk kemudian melakukan tindakan serta antisipasi yang tepat dan benar. Melalui kegiatan seperti ini maka selanjutnya  segala persoalan dan fenomena sosial yang meresahkan masyarakat secara dini dapat dilakukan upaya-upaya pencegahan.
Melakukan upaya meditasi yaitu melakukan pendekatan sosial dan kultural masing-masing kelompok baiak partai, lsm, pemerintah setempat pihak-pihak yang  sedang “bertikai” atau “terjadi gesekan idialisme” yang dilakukan oleh  anggota atau pimpinan bersama dengan instansi terkait dengan cara mengundang para tokoh yang dipercaya oleh masing-masing pihak yang bertikai untuk duduk bersama guna membahas penyelesaian konflik yang terjadi, guna dicarikan solusi yang paling tepat dan saling menguntungkan di antara kedua belah pihak.
Melakukan upaya yuridis (represif yang tegas), Upaya yuridis oleh dijalankan sebagai langkah terakhir bila aksi unjuk rasa, mobilisasi massa, dan lainya yang akan berdampak kepada gangguan kamdagri, maka penegak hukum harus benar-benar bersikap tegas dan obyektif sehingga mampu membangun opini masyarakat bahwa Polri semata-mata hanyalah menegakkan hukum dan keadilan. Dengan demikian tindakan Polri sebagai aparat penegak hukum dalam melakukan dalam pelaksanaan tugas pokoknya dapat berlaku adil dan tidak memihak. Gambar inset google

No comments: