04 February 2013

Upaya Pemberantasan Narkotika

Jalurberita.com – Istilah narkotika yang dikenal di Indonesia berasal dari bahasa Inggris “Narcotics” yang berarti obat bius, yang sama artinya dengan kata “Narcosis” dalam bahasa Yunani yang berarti menidurkan atau membiuskan. Pengertian Narkotika secara umum adalah suatu zat yang dapat menimbulkan perubahan perasaan, suasana pengamatan/penglihatan karena zat tersebut mempengaruhi susunan syaraf pusat.

Hawari dalam penelitiannya menyatakan bahwa faktor utama penyebab seseorang terlibat dalam penyalahgunaan Narkoba adalah akibat pengaruh teman kelompok sebaya dan kondisi keluarga yang tidak baik/disfungsi keluarga. Secara umum ada 3 (tiga) faktor yang dominan menyebabkan mereka terlibat dalam penyalahgunaan Narkoba, yaitu : akibat pengaruh kelompok pergaulan, pengaruh disfungsi keluarga,  dan  pengaruh siaran televisi.

Realita dalam kehidupan sehari-hari yang dapat mempertegas kencenderungan-kecenderungan seperti tersebut di atas, adalah :  para Ayah/bapak lebih sering menghilang dari tanggung jawab utama mereka, yaitu menjadi ayah/bapak bagi anak-anaknya. Anak-anak menjadi haus akan elusan dan kasih sayang orang tua, anak-anak kesepian sendirian ditemani televisi. Tokoh panutan mereka bukan lagi ayah dan ibu tapi tokoh-tokoh dalam film yang mereka tonton lewat televisi.

Berdasarkan Undang-undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara R.I., Polri diberi tugas sebagai alat negara penegak hukum, pelindung dan pelayan masyarakat. Untuk itu bersama-sama dengan komponen bangsa lainnya, Polri berkewajiban dalam usaha pencegahan dan penanggulangan masalah penyalahgunaan Narkoba di Indonesia. Polri sebagai unsur terdepan dalam penanggulangan terhadap setiap ancaman penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkoba melakukan 4 (empat) langkah upaya penanggulangan.

Secara Preemtif seperti juga penanganan setiap gangguan Kamtibmas, maka penanganan terhadap penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkoba apabila dilakukan lebih dini, di hulu jauh lebih baik daripada di muara. Upaya-upaya Preemtif yang dilakukan adalah berupa kegiatan-kegiatan edukatif dengan sasaran mempengaruhi faktor-faktor penyebab pendorong dan faktor peluang yang biasa disebut faktor Korelatif Kriminogen dari kejahatan Narkoba, sehingga tercipta suatu kesadaran, kewaspadaan, daya tangkal serta terbina dan terciptanya kondisi perilaku / norma hidup bebas Narkoba.

Kegiatan penyuluhan dengan melibatkan berbagaai elemen seperti sekolah SMP, SMU, Universitasa , LSM, komunitas yang ada dan lainya dengan harapan tercipta pemahaman akan dampak yaang di timbulkann oleh narkoba.

Secara Preventif dengan upaya yang dilakukan untuk mencegah terjadinya kejahatan Narkoba melalui pengendalian dan pengawasan jalur resmi serta pengawasan langsung terhadap jalur-jalur peredaran gelap dengan tujuan agar Police Hazard tidak berkembang menjadi ancaman faktual, antara lain dengan tindakan : 1) Menjaga agar jumlah dan jenis yang tersedia hanya untuk dunia pengobatan dan pengembangan ilmu pengetahuan. 2) Menjaga ketepatan pemakaian sehingga tidak mengakibatkan ketergantungan. 3) Mencegah kondisi geografi Indonesia tidak dimanfaatkan sebagai jalur gelap dengan mengawasi pantai serta pintu-pintu masuk ke Indonesia. 4) Mencegah secara langsung peredaran gelap Narkoba di dalam Negeri disamping mencegah agar Indonesia tidak dimanfaatkan sebagai mata rantai perdagangan gelap baik tingkat Nasional regional maupun internasional.

Secara Represif dengan melakukan tindakan penindakan dan penegakkan hukum terhadap ancaman faktual dengan sanksi yang tegas dan konsisten sehingga dapat membuat jera para pelaku penyalahguna dan pengedar Narkoba. Bentuk kegiatan yang dilakukan Polri dalam usaha represif adalah : 1) Memutus jalur peredaran gelap Narkoba. 2) Mengungkap jaringan Sindikat. 3) Mengungkap motivasi / latar belakang dari kejahatan penyalahgunaan Narkoba.

No comments: