08 September 2011

Peran Pemda dalam Lalu Lintas

JALURBERITA Selama gelaran Operasi Ketupat, hingga hari ke-11 (23 Agustus-3 September 2011) atau H+3, Markas Besar Kepolisian RI mencatat 3.530 kecelakaan terjadi di seluruh Indonesia. Jumlah tersebut naik jika dibandingkan dengan pada 2009 dan 2010. Sebanyak 587 orang meninggal dunia, 990 orang luka berat, dan 2.415 orang mengalami luka ringan dengan jumlah kerugian materiil mencapai Rp10.877.294.909. "Data itu kami terima hingga Jumat (2/9) malam," ujar Kepala Unit Analisis dan Evaluasi Operasi Mudik 2011, AKBP Heru TS, kemarin.

Menurut Heru, kecelakaan masih didominasi sepeda motor, yang menyumbang sekitar 90% dari total kecelakaan yang terjadi. Heru mengatakan ada tiga faktor penyebab kecelakaan, yakni pengendara mengantuk, kelaikan jalan raya, dan kelaikan kendaraan. Faktor pengendara mengantuk saat mengemudi merupakan penyumbang terbesar terjadinya kecelakaan lalu lintas, yakni sampai 941 kasus.
Guna meminimalisasi angka kecelakaan, Heru mengimbau masyarakat yang hendak kembali ke daerah asal agar memperhatikan keselamatan. "Diharapkan masyarakat benar-benar memeriksa kendaraan sebelum bepergian," ujarnya. Masyarakat, kata Heru lagi, juga harus memperhatikan ketahanan tubuh saat menyetir mobil. "Jangan memaksakan diri kalau sudah capek, ya istirahat di pos pengamanan atau pos pelayanan yang ada," jelasnya. www.mediaindonesia.com

Peran Pemda dalam Lalu Lintas
Menurut AKBP Heru TS  kepala Unit Analisis dan Evaluasi Operasi Mudik 2011 Kerugian materil arus mudik lebaran dari (23 Agustus - 3 September 2011) mencapai Rp10.877.294.909 dengan jumlah kecelakaan 3.530 kecelakaan yang  terjadi di seluruh Indonesia. Penyebabnya menurutnya pengendara mengantuk, kelaikan jalan raya, dan kelaikan kendaraan kecelakaan terbesar dialami oleh sepeda motor yang menyumbang sekitar 90% yakni 942 kasus.

Indikator human error sering dijadikan kambing hitam dalam setiap kejadian kecelakaan tanpa memerhatikan peran pemerintah yang harus memberikan infrastruktur jalan yang layak bagi masyarakat seperti yang tertuang dalam pasal 5 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor  22  Tahun  2009 Tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan yang berisi (1)  Negara  bertanggung  jawab  atas  Lalu  Lintas  dan Angkutan  Jalan  dan  pembinaannya  dilaksanakan  oleh Pemerintah. (2)  Pembinaan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a.  perencanaan;  b.  pengaturan;  c.  pengendalian; dan  d.  pengawasan. (3)  Pembinaan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan sebagaimana dimaksud  pada  ayat  (2)  dilaksanakan  oleh  instansi pembina sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya yang meliputi:
a.  urusan  pemerintahan  di  bidang  Jalan,  oleh kementerian  negara  yang  bertanggung  jawab  di bidang Jalan; b.  urusan  pemerintahan  di  bidang  sarana  dan Prasarana  Lalu  Lintas  dan  Angkutan  Jalan,  oleh kementerian  negara  yang  bertanggung  jawab  di bidang  sarana  dan  Prasarana  Lalu  Lintas  dan Angkutan Jalan;

c.  urusan  pemerintahan  di  bidang  pengembangan industri  Lalu  Lintas  dan  Angkutan  Jalan,  oleh kementerian  negara  yang  bertanggung  jawab  di bidang industri; d.  urusan  pemerintahan  di  bidang  pengembangan teknologi  Lalu  Lintas  dan  Angkutan  Jalan,  oleh kementerian  negara  yang  bertanggung  jawab  di bidang pengembangan teknologi; dan e.  urusan  pemerintahan  di  bidang  Registrasi  dan Identifikasi  Kendaraan  Bermotor  dan  Pengemudi, Penegakan  Hukum,  Operasional  Manajemen  dan Rekayasa Lalu Lintas, serta pendidikan berlalu lintas, oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Jika pembangunan infrastruktur berjalan sesuai dengan angka peningkatan kendaraan bermotor maka kejadian macet tidak akan terjadi lagi sehingga kecelakaan yang sering terjadi akan berkurang. Pada umunya kecelakaan terjadi karena sipat pengendaraan motor yang tidak mau “antri” dalam menggunakan sarana umum tersebut. Namun kata “antri” dalam kondisi arus mudik sangat sulit dilakukan karena infrastuktur jalan raya tidak mendukung. Sebagai contoh : untuk antri kendaraan sepedah motor idealnya dalam satu arus motor tersebut di gunakan oleh dua orang pengendara sepedah motor namun faktanya dalam satu arus jalan raya sering digunakan antri lebih dari tiga sepedah motor dengan ruas jalan kurang lebih empat meter. Sehingga kemungkinan human error sangat mungkin terjadi karena tidak ada keleluasan dalam mengendarakan sepedah motor.

Tujuan berlalu lintas sesuai Pasal 3, berupa (a).  terwujudnya  pelayanan  Lalu  Lintas  dan  Angkutan  Jalan yang  aman,  selamat,  tertib,  lancar,  dan  terpadu  dengan moda  angkutan  lain  untuk  mendorong  perekonomian nasional,  memajukan  kesejahteraan  umum, memperkukuh  persatuan  dan  kesatuan  bangsa,  serta mampu menjunjung tinggi martabat bangsa; (b).  terwujudnya etika berlalu lintas dan budaya bangsa; dan  c.  terwujudnya  penegakan  hukum  dan  kepastian  hukum  bagi masyarakat. Tujuan mulya ini belum dapat terlaksanakan dengan munculnya pameo mudik lebaran dengan kata “mudik ke rahmatulah” karena infrastruktur yang ada belum mampu mengimbangi jumlah kendaraan yang ada.

Jikalau Pemerintah mampu memenuhi kewajibannya maka akan terbentang jalan raya yang besar dan mampu mengakomodir kebutuhan masyarakat akan rasa nyaman dalam melakukan kegiatan rutin mudik lebaran.  Namun kewajiban Negara seperti yang tertuang dalam pasal 7 butir belum maksimal dilaksakan oleh Negara seperti butir (2)  Penyelenggaraan  Lalu  Lintas  dan  Angkutan  Jalan  oleh Pemerintah  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1) dilaksanakan  sesuai  dengan  tugas  pokok  dan  fungsi instansi masing-masing meliputi:  a.  urusan  pemerintahan  di  bidang  Jalan,  oleh kementerian  negara  yang  bertanggung  jawab  di bidang Jalan; b.  urusan  pemerintahan  di  bidang  sarana  dan Prasarana  Lalu  Lintas  dan  Angkutan  Jalan,  oleh kementerian  negara  yang  bertanggung  jawab  di bidang  sarana  dan  Prasarana  Lalu  Lintas  dan Angkutan Jalan; c.  urusan  pemerintahan  di  bidang  pengembangan industri  Lalu  Lintas  dan  Angkutan  Jalan,  oleh kementerian  negara  yang  bertanggung  jawab  di bidang industri;

d.  urusan  pemerintahan  di  bidang  pengembangan teknologi  Lalu  Lintas  dan  Angkutan  Jalan,  oleh kementerian  negara  yang  bertanggung  jawab  di bidang pengembangan teknologi; dan (2)  Penyelenggaraan  Lalu  Lintas  dan  Angkutan  Jalan  oleh Pemerintah  sebagaimana  dimaksud  pada  ayat  (1) dilaksanakan  sesuai  dengan  tugas  pokok  dan  fungsi instansi masing-masing meliputi:  a.  urusan  pemerintahan  di  bidang  Jalan,  oleh kementerian  negara  yang  bertanggung  jawab  di bidang Jalan; b.  urusan  pemerintahan  di  bidang  sarana  dan Prasarana  Lalu  Lintas  dan  Angkutan  Jalan,  oleh kementerian  negara  yang  bertanggung  jawab  di bidang  sarana  dan  Prasarana  Lalu  Lintas  dan Angkutan Jalan;

c.  urusan  pemerintahan  di  bidang  pengembangan industri  Lalu  Lintas  dan  Angkutan  Jalan,  oleh kementerian  negara  yang  bertanggung  jawab  di bidang industri; d.  urusan  pemerintahan  di  bidang  pengembangan teknologi  Lalu  Lintas  dan  Angkutan  Jalan,  oleh kementerian  negara  yang  bertanggung  jawab  di bidang pengembangan teknologi; dan e.   urusan  pemerintahan  di  bidang  Registrasi  dan Identifikasi  Kendaraan  Bermotor  dan  Pengemudi, Penegakan  Hukum,  Operasional  Manajemen  dan Rekayasa Lalu Lintas, serta pendidikan berlalu lintas, oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia.

No comments: