15 August 2009

Peran NEGOSIATOR dalam Unjuk Rasa

Masih hangat terdengar di telinga kita, akibat yang di timbulkan oleh unjuk rasa anarkhis yang berujung pada meninggalnya ketua DPRD Sumatera Utara, Abdul Azis Angkat, pada tanggal 3 Februari 2009. Dan juga berdampak kepada timbulnya perpecahan, permusuhan, dendam yang berkepanjangan, dominasi yang kuat atas yang lemah, timbulnya premanisme, perubahan kepribadian serta jatuhnya korban-korban baru jika tidak serius di tangani. Kebebasan menyampaikan pendapat di muka umum adalah hak azasi manusia yang dijamin oleh UUD 1945, dekralasi Universal Hak azasi manusia, UU No 9 tahun 1998 tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum, UU No. 40 tahun 1999 tentang Pers dan lainya.

Dalam UU No 9 tahun 1998 tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum, telah telah diatur bagaimana pelaksaan kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum yang berwujud demontrasi dan protes yang merupakan bentuk dari partisipasi masyarakat. Dalam implementasiya Polri sebagai “guardian of the civil value” atau sebagai pilar demokrasi, telah menjabarkan UU tersebut dengan mengeluarkan peraturan Kapolri No16 tahun 2005 tentang standar Dalmas terbaru.

Suatu kenyataan yang tidak dapat kita sangkal bahwa pemahaman dari sejumlah pakarpun terhadap demokrasi berbeda-beda satu sama lainnya, ini dapat terlihat dari penjabaran kerangka teori pemahaman terhadap manajemen konflik dalam mengartikan tindakan anarkhis yang dianggap merupakan perwujudan dari proses demokrasi, ataupun juga dianggap bahwa merupakan penyeimbang bagi terlaksananya suatu demokrasi, sehingga terhadap pemahaman tersebut dapat dijadikan suatu alasan untuk menilainya.
Anarkhis merupakan istilah yang berasal dari Bahasa Yunani yaitu Anarkia yang berarti Tanpa Penguasa. Kata anarkhis kemudian diadopsi kedalam Bahasa Inggris menjadi Anarchi yang berarti “The Absence or Failure of Goverment” (Pass Word : 1996). Dengan demikian berdasarkan terminologi kata anarkhis dapat bermakna bahwa suatu situasi tanpa pengaturan dan pengendalian penguasa atau pemerintah. Penguasa kurang memiliki kekuatan mengontrol aktivitas masyarakat karena peraturan yang ada tidak berfungsi lagi, dan tidak mampu untuk mengendalikannya sehingga terjadi “Chaos”, sehingga dapat ditarik suatu pandangan bahwa anarkhis adalah suatu tindakan sekelompok orang-orang yang tidak mengindahkan anjuran pemerintah dan peraturan perundang-undangan.

Mencermati beberapa tindakan anarkhis yang terjadi akhir-akhir ini, ada beberapa faktor-faktor yang sangat dominan mempengaruhinya antara lain dapat disebabkan adanya keyakinan bersama dan persepsi yang keliru terhadap hukum sehingga anarkhis timbul kadangkala melalui proses unjuk rasa yang damai berkembang menjadi brutal dan akhirnya dapat menimbulkan tindakan anarkhis, adapula yang memang dilakukan secara terorganisir serta dapat menimbulkan kerugian baik moril maupun materil yang akhirnya penegakan hukum dianggap tidak dapat berjalan sehingga menghilangkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah, khususnya Polri yang bertanggung jawab terhadap masalah keamanan dan ketertiban.

Harus diakui bahwa penggunaan tindakan anarkhis adalah sesuatu hal yang keliru dan tidak benar, namun dalam kenyataannya bahwa tidak sedikit unjuk rasa yang tadinya damai berubah menjadi tindakan kekerasan, pengeroyokan dan pembakaran serta penjarahan dan lain-lain dimana kesemuanya itu adalah bukti nyata bahwa tindakan anakhis oleh sebagian masyarakat dianggap sebagai bagian dari demokrasi.

Terlepas dari pemahaman sebagaimana dikemukakan diatas, Polri sebagai bagian dari sistem pemerintahan negara dibidang pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, penegak hukum, pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat dimasa depan dalam pelaksanaan tugas khususnya di tingkat Komando Operasional Dasar (KOD) atau Kepolisian Resort (Polres) dimungkinkan masih terus akan menghadapi masalah terhadap masalah dari bentuk-bentuk kejahatan yang mengarah pada terjadinya tindakan anarkhis, salah satunya dengan meningkatkan peran tim negosiasi dalam menjembatani kepentingan pemerintah dan pengunjuk rasa sehingga tidak terjadi tindakan anarkhis.
Menurut Brian Finch1) kata negosiasi berasal dari bahasa latin yang berarti bisnis. Kata ini mengandung makna, dimana pembelian atau tawar menawar merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Sedangkan pengertian Negosiasi menurut Pierre Casse2) adalah : 1) Proses komunikasi dua pihak, 2) Persepsi/ asumsi, kebutuhan, motivasi/ harapan berbeda, 3) Mencoba bersepakat demi kepentingan bersama. Sedangkan definisi Negosiasi menurut Robert Heron dan Carolin Vandenabeele adalah suatu proses dimana dua pihak atau lebih yang mempunyai kepentingan yang sama atau bertentangan bertemu dan berbicara dengan maksud untuk mencapai suatu kesepakatan. Pertentangan kepentingan memberikan alasan terjadinya suatu negosiasi.

Negosiator juga merupakan suatu proses yang memerlukan kerjasama antara masing-masing pihak yang terlibat dalam proses negosiasi dengan tujuan menyelesaikan masalah dengan berbagai cara / alternatif agar perbedaan kepentingan bisa dikompromikan dalam bentuk kesepakatan (Tie Up The loose End). Dari kerjasama yang dilakukan segala tuntutan/ keinginan, aspirasi dan opini masing-masing pihak dapat diarahkan demi tercapainya situasi konfornitas secara optimal, selanjutnya diperoleh manfaat semaksimal mungkin dengan faktor resiko seminimal mungkin.
Berdasarkan uraian tersebut, maka peran negosiator Polri yang diharapkan adalah :
a. Sebagai Fasilitator, Setiap Negosiator Polri yang bertugas menanggapi dan melayani unjuk rasa dilapangan diharapkan memiliki kemampuan untuk berfikir, serta bertindak dengan cepat dan tepat, juga kemampuan untuk mengadakan komunikasi dengan orang lain baik individu maupun kelompok dan kemampuan untuk mengendalikan diri guna menghadapi masalah yang dihadapi dengan baik.
b. Sebagai Komunikator. Peran sebagai Komunikator merupakan peran yang paling penting dari seorang negosiator. Kemampuan yang secara khusus dimiliki oleh negosiator adalah dengan memiliki aspirasi / imajinasi tinggi, konsesi / kerelaan ( menjelang akhir nego ). Sedangkan kemampuan berkomunikasi yang secara khusus harus dimiliki oleh negosiator adalah :
1) Karakter sebagai komunikator yang gigih, mampu mempengaruhi (membujuk) orang lain melalui komunikasi, tidak mudah menyerah pada ancaman maupun tekanan verbal, dari para pengunjuk rasa serta mempunyai tingkat kesabaran yang tinggi. 2) Memiliki wawasan dan pengetahuan praktis tentang psikologi yang berkaitan dengan pemahaman gambaran kondisi psikologis dari para pengunjuk rasa . dan model / langkah komunikasi seperti apa yang sebaiknya diterapkan pada type pengunjuk rasa tersebut. 3). Sikap yang tegas, korek, berwibawa tetapi dapat bersikap familiar / bersahabat. 4). Mampu menampilkan peran secara luwes / fleksibel, mengembangkan sikap empati, sehingga dapat berkomunikasi dengan baik. 5). Mampu dan menguasai berbagai bahasa, khususnya bahasa Indonesia dan berbagai bahasa daerah, sehingga komunikasi dapat lebih lancar dan dapat menyelesaikannya dengan baik. 6). Menghindarkan cara-cara mengancam dan menakut-takuti dalam proses negosiasi berlangsung, terutama dalam menghadapi massa yang sedikit, tidak perlu menggunakan peralatan yang lengkap, cukup dengan tongkat saja ataupun dengan komunikasi yang baik saja sudah cukup untuk dapat menyelesaikan masalah dengan baik. 7). Proses komunikasi melibatkan proses berbicara dan proses mendengarkan.
a. Apabila berbicara :
- tidak berbicara terlalu cepat
- perhatikan bahasa tubuh anda, misalkan lakukan kontak mata, hindari postur / gerakan yang negative
- sebaiknya mengindari istilah-istilah teknis
- berkonsentrasi pada pemahaman dalam komunikasi, bukan hanya kosa kata yang digunakan. Berkomunikasi secara terbuka dan jelas; jangan tinggalkan ruangan / tempat untuk menghindari interpretasi ganda.
- Berhati-hati dengan aspek non verbal dari apa yang anda katakan, seperti nada bicara, intonasi suara, dsb (misalnya pengulangan / stuttering dapat menandakan bahwa anda sedang gugup).
b. Apabila mendengarkan
- Harus berkonsentrasi pada apa yang dikatakan.
- Dengarkan baik-baik dan secara aktif
- Senantiasa mendengarkan, walaupun yang dibicarakan tidak relevan, berputar-putar atau berulang-ulang.
- Buat kesimpulan dari apa yang dibicarakan.
- Telusuri apa yang anda dengar.
- Ulang pokok-pokok bahasan yang anda dengarkan untuk diri anda sendiri.
- Harus peka terhadap bahasa tubuh non verbal si pembicara dan bahasa tubuh anda sendiri (60-80% komunikasi langsung tergantung dari aspek non verbal).

No comments: