16 August 2009

Kepemimpinan Yang Ideal

Di era reformasi yang telah dan sedang dilakukan oleh bangsa Indonesia yang bertujuan untuk dapat mencapai suatu kehidupan berbangsa, bernegara dan masyarakat sipil (Civilan Society) yang demokratis, dimana setiap masyarakat dituntut untuk berproduksi dan berguna atau setidak-tidaknya dapat menghidupi dirinya sendiri serta dapat saling menghidupi satu sama lain dalam kehidupan bermasyarakat. Selain itu kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, komunikasi dan informasi yang begitu pesat telah mendorong terjadinya perkembangan dunia yang semakin mengglobal dan transparan, sehingga seolah-olah negara menjadi tanpa batas (Borderless World) bagaikan desa dalam kota dunia (Global Village) yang dihuni manusia berbagai bangsa.

Sejak bergulirnya reformasi di Indonesia, Polri telah menetapkan Grand Strategi yang diawali sejak tahun 2005-2025. Dimana Tahapan Grand Strategi terbagi dalam tiga tahapan rencana strategis yaitu Tahap I adalah Trust Building, periode waktu tahun 2005 – 2010. Penetapan tahap 1 didasarkan pada argumentasi bahwa keberhasilan Polri dalam menjalankan tugas memerlukan dukungan masyarakat dengan landasan kepercayaan (trust). Tahap II, Partnership Building, periode tahun 2011 – 2015, merupakan kelanjutan dari tahap pertama, perlu dibangun kerja sama yang erat dengan berbagai pihak yang terkait dengan pekerjaan Polri , Tahap III, Strive for Excellence, periode tahun 2016 – 2025.

Untuk melaksanakan Grand Strategi maka diperlukan pemimpin yang mampu berpikir strategis sehingga dapat bermanfaat bagi organisasi di kemudian kelak. Berbicara kepemimpinan ada banyak definisi yang diberikan mengenai konsep kepemimpinan. Menurut Nielche Patric dalam bukunya The Codes of A Leader, menyebutkan bahwa kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktivitas sebuah kelompok yang terorganisir untuk mencapai sebuah tujuan. Definisi lain mengenai kepemimpinan adalah suatu proses memberikan tujuan (arah yang berarti) mengumpulkan usaha, menyebabkan kemauan untuk berusaha mencurahkan segalanya demi mencapai tujuan.

Menurut Komjen Pol Drs. R.Makbul Padmanegara, bahwa kepemimpinan visioner adalah kepemimpinan yang selalu memiliki kepekaan dan kepedulian yang tinggi terhadap perkembangan situasi serta piawai dalam beradaptasi, mampu memperlakukan sumber daya organisasi secara arif dan bijakasana serta senantiasa memperhatikan faktor efektifitas dan efisiensi interaksi sosialnya, tidak mekanistis tetapi humanis. Pola kepemimpinan yang baik didasarkan atas tiga sudut pandang, yakni memiliki integritas kepribadian, kapabilitas intelektual dan akseptabilitas lingkungan. Berdasarkan ketiga sudut pandang tersebut, seorang pemimpin akan mampu mengembangkan pola kepemimpinan visioner, yakni kepemimpinan yang mampu memantapkan nilai-nilai yang akan menjadi landasan berfikir bersama agar mampu beradaptasi dengan perubahan, menginspirasi perubahan, melebur dengan perubahan itu, menggerakkan sumber daya organisasi menuju pencapaian perubahan yang diinginkan, serta mengarahkan roda organisasi kepada hari depan yang lebih baik.

Pola kepemimpinan ini mengakomodasikan keberagaman karakteristik kultural masyarakat dan memiliki pandangan jauh ke depan dengan berbasiskan pada harmonisasi pembangunan dan pengembangan kecerdasan intelektual, kecerdasan spiritual, dan kecerdasan emosional . Kolaborasi harmonis antara kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual akan dapat membangun emosional yang bermakna positif. Manakala seseorang memiliki kualitas pengendalian diri yang cukup tinggi, maka dalam setiap komunikasi dengan pihak lain akan dimulai dengan pancaran gelombang yang mengakibatkan komunikasi berjalan lancar dan menarik. Hal demikian mempermudah penyampaian informasi, komunikasi dan persepsi.

kepemimpinan menurut ABRAHAM MASLOW, lahir sebagai suatu konsekuensi logis dari perilaku dan budaya manusia yang terlahir sebagai individu yang memiliki ketergantungan sosial (zoon politicon) yang sangat tinggi dalam memenuhi berbagai kebutuhannya (homo sapiens). ABRAHAM MASLOW mengidentifikasi adanya 5 tingkat kebutuhan manusia : 1). kebutuhan biologis, 2). kebutuhan akan rasa aman, 3). kebutuhan untuk diterima dan dihormati orang lain, 4). kebutuhan untuk mempunyai citra yang baik, dan 5). kebutuhan untuk menunjukkan prestasi yang baik. Dalam upaya memenuhi kebutuhannya tersebut manusia kemudian menyusun organisasi dari yang terkecil sampai yang terbesar sebagai media pemenuhan kebutuhan serta menjaga berbagai kepentingannya. Bermula dari hanya sebuah kelompok, berkembang hingga menjadi suatu bangsa. Dalam konteks inilah, sebagaimana dikatakan Plato dalam filsafat negara, lahir istilah kontrak sosial dan pemimpin atau kepemimpinan.

Dalam bahasa Indonesia “pemimpin” sering disebut penghulu, pemuka, pelopor, pembina, panutan, pembimbing, pengurus, penggerak, ketua, kepala, penuntun, raja, tua-tua, dan sebagainya. Istilah pemimpin, kepemimpinan, dan memimpin pada mulanya berasal dari kata dasar yang sama “pimpin”. Namun demikian ketiganya digunakan dalam konteks yang berbeda. Pemimpin adalah suatu peran dalam sistem tertentu; karenanya seseorang dalam peran formal belum tentu memiliki ketrampilan kepemimpinan dan belum tentu mampu memimpin. Adapun istilah Kepemimpinan pada dasarnya berhubungan dengan ketrampilan, kecakapan, dan tingkat pengaruh yang dimiliki seseorang; oleh sebab itu kepemimpinan bisa dimiliki oleh orang yang bukan “pemimpin”. Sedangkan istilah Memimpin digunakan dalam konteks hasil penggunaan peran seseorang berkaitan dengan kemampuannya mempengaruhi orang lain dengan berbagai cara.

Kajian mengenai kepemimpinan termasuk kajian yang multi dimensi, aneka teori telah dihasilkan dari kajian ini. Teori yang paling tua adalah The Trait Theory atau yang biasa disebut Teori Pembawaan. Teori ini berkembang pada tahun 1940-an dengan memusatkan pada karakteristik pribadi seorang pemimpin, meliputi : bakat-bakat pembawaan, ciri-ciri pemimpin, faktor fisik, kepribadian, kecerdasan, dan ketrampilan berkomunikasi. Tetapi pada akhirnya teori ini ditinggalkan, karena tidak banyak ciri konklusif yang dapat membedakan antara pemimpin dan bukan pemimpin. Dengan surutnya minat pada Teori Pembawaan, muncul lagi Teori Perilaku, yang lebih dikenal dengan Behaviorist Theories. Teori ini lebih terfokus kepada tindakan-tindakan yang dilakukan pemimpin daripada memperhatikan atribut yang melekat pada diri seorang pemimpin. Dari teori inilah lahirnya konsep tentang Managerial Grid oleh ROBERT BLAKE dan HANE MOUTON. Dengan Managerial Grid mereka mencoba menjelaskan bahwa ada satu gaya kepemimpinan yang terbaik sebagai hasil kombinasi dua faktor, produksi dan orang, yaitu Manajemen Grid. Manajemen Grid merupakan satu dari empat gaya kepemimpinan yang lain, yaitu : Manajemen Tim, Manajemen Tengah jalan, Manajemen yang kurang, dan Manajemen Tugas.

Pada masa berikutnya teori di atas dianggap tidak lagi relevan dengan sikon zaman. Timbullah pendekatan Situational Theory yang dikemukakan oleh HARSEY dan BLANCHARD. Mereka mengatakan bahwa pembawaan yang harus dimiliki seorang pemimpin adalah berbeda-beda, tergantung dari situasi yang sedang dihadapi. Pendekatan ini menjadi trend pada tahun 1950-an. Teori yang paling kontemporer adalah teori Jalan Tujuan, Path-Goal Teory. Menurut teori ini nilai strategis dan efektivitas seorang pemimpin didasarkan pada kemampuannya dalam menimbulkan kepuasan dan motivasi para anggota dengan penerapan reward and punisment.
Perkembangan teori-teori di atas sesungguhnya adalah sebuah proses pencarian formulasi sistem kepemimpinan yang aktual dan tepat untuk diterapkan pada zamannya. Atau dengan kata lain sebuah upaya pencarian sistem kepemimpinan yang efektif dan strategis.

Kepemimpinan strategis adalah kepemimpinan yang berprinsip. Prinsip-prinsip tersebut menurut STEPHEN R. COVEY dalam Principle Centered Leadership terdiri dari : 1). Belajar terus menerus, mereka membaca, berlatih, dan mendengarkan masukan; 2). Berorientasi pada pelayanan, mereka melihat hidup sebagai suatu misi dan tidak hanya sebagai suatu karir; 3). Memancarkan energi positif, mereka optimistis, positif, dan modern; 4). Mempercayai orang lain, mereka tidak tidak berekasi berlebihan pada perilaku negatif, kritik dan kelemahan; 5). Hidup seimbang, mereka memperhatian keseimbangan jasmani dan rohani, antara yang tradisionil dan yang modern; 6). Melihat hidup sebagai petualangan, mereka menghargai hidup di luar kenyamanan; 7). Sinergistik, mereka memilih untuk memfokuskan diri pada kepentingan orang lain dan mampu membina energi-energi yang dimiliki organisasi; dan 8). Melaksanakan pembaharuan diri, mereka memiliki karakter yang kuat dan sehat, serta berdisiplin tinggi.

Atas dasar prinsip-prinsip itulah maka kepemimpinan strategis menuntut hal-hal sebagai berikut : 1). Kelompok bekerja sesuai dengan prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang dipegang kelompok; 2). Masing-masing anggota kelompok memiliki kualitas dan nilai-nilai tertentu yang memberikan kontribusi pada berfungsinya mekanisme kelompok secara efektif. Pada bagian lain Bernardine R. Wirjana menyatakan, bahwa prinsip-prinsip yang mutlak dalam suatu kepemimpinan strategis adalah : 1). Mengerti diri sendiri dan selalu berbuat untuk perbaikan diri sendiri; 2). Menguasai keahlian teknis; 3). Mempunyai tanggung jawab dan bertanggung jawab; 4). Mengambil keputusan yang matang dan tepat waktu; 5). Menjadi peran/role model bagi karyawannya; 6). Mengenal karyawan dan memperhatiakn kesejahteraannya; 7). Membuat anggota selalu mendapat informasi yang mereka perlukan; 8). Menumbuhkan rasa tanggung jawab; 9). Menjamin bahwa tugas-tugas dapat dimengerti; 10). Melatih anggota-anggota sebagai tim; 11). Menggunakan sepenuhnya kapabilitas organisasi.

Prinsip kepemimpinan adalah asas yang mengandung kebenaran dan pantas untuk selalu digunakan oleh setiap pemimpin. Prinsip-prinsip kepemimpinan meliputi : 1. Mahir dalam soal-soal teknis dan taktis. 2. Mengetahui diri-sendiri, mencari dan selalu berusaha memperbaiki diri. 3. Memiliki keyakinan bahwa tugas-tugas dimengerti, diawasi dan dijalani. 4. Mengenal anggota-anggota bawahan serta memelihara kesejahteraannya. 5. Memberi teladan dan contoh yang baik. 6. Menumbuhkan rasa tanggung jawab di kalangan anggota. 7. Melatih anggota bawahan sebagai satu tim yang kompak. 8. Buat keputusan-keputusan yang sehat, tepat pada waktunya. 9. Memberi tugas dan pekerjaan kepada bawahan sesuai dengan kemampuannya. 10. Bertanggung jawab terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan.

Setiap permasalahan kepemimpinan selalu meliputi 3 (tiga) unsur yang terdiri dari : Unsur manusia : yaitu manusia yang melaksanakan kegiatan memimpin atas sejumlah manusia lain atau manusia yang memimpin dan manusia yang dipimpin. Unsur sarana: yaitu Prinsip dan Teknik Kepemimpinan yang digunakan dalam pelaksanaan Kepemimpinan, termasuk bakat dan pengetahuan serta pengalaman pemimpin tersebut. Unsur tujuan. Secara normatif, keberhasilan kepemimpinan akan sangat tergantung kepada tiga unsur tersebut yang meliputi : syarat, watak, ciri, gaya, sifat, prinsip, teknik, asas dan jenis kepemimpinan sebagai pedoman dalam penyelenggaraan kepemimpinan.

Kepemimpinan akan berjalan efektif, disegani, dan memiliki derajat yang tinggi bila seorang pemimpin memiliki 3 (tiga) kelebihan dari yang dipimpin dalam hal sebagai berikut : Kelebihan dalam bidang rasio/intelektual, kelebihan dalam bidang rohaniah, kelebihan dalam bidang Jasmaniah. Kelebihan dalam bidang rasio meliputi : 1). Pengetahuan tentang tujuan organisasi. 2). Pengetahuan tentang asas-asas organisasi. 3). Pengetahuan tentang cara memutar roda organisasi secara efisien. 4). Tercapainya tujuan organisasi secara maksimal. Kelebihan dalam bidang rohaniah meliputi : Keluhuran budi pekerti, Ketinggian moralitas, Kesederhanaan watak. Kelebihan dalam bidang jasmaniah meliputi : Memiliki badan/fisik yang sehat dan memungkinkan menjadi contoh dalam prestasi sehari-hari.

Efektivitas kepemimpinan dipengaruhi juga oleh metode mengarahkan bawahan yang digunakan oleh seorang pemimpin. Metode yang digunakan untuk mengarahkan bawahan agar mereka melakukan tugasnya dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab senantiasa berbeda pada setiap situasi dan kondisi. Namun demikian terdapat beberapa metode yang dapat dilakukan, diantaranya : 1). Metode persuasif (membujuk). Dengan cara penyadaran atau pembujukan untuk mempengaruhi atau membawa ke arah kesadaran untuk melakukan kewajibannya tanpa disadarinya. 2). Metode impilikatif (melibatkan). Dengan cara dialog dalam rangka membawa kepada sasaran yang diinginkan. 3). Metode sugestif (menganjurkan). Cara mempengaruhi bawahan untuk melakukan sesuatu dengan memberikan saran-saran dan harapan-harapan. 4). Metode diskusi. Dengan cara dialog antara pemimpin dengan bawahan dalam menentukan sasaran/tujuan organisasi. 5). Advise (nasehat). Dengan cara memberikan nasehat kepada bawahan terhadap tujuan yang akan dicapai organisasi. 6). Induecement (paksaan). Dengan cara memberikan dorongan atau penekanan kepada bawahan agar mau melaksanakan perintah atau harapan pemimpin. 7). Komando. Dengan cara yang lebih keras melalui perintah atau paksaan untuk melaksanakan perintah atau tugas tanpa ada alternatif lain.

No comments: