30 July 2009

Reformasi Lalu Lintas


Berbicara reformasi secara kasat mata maka kita berbicara arah perjalanan kembalinya perjalanan kepada ketetapan sebelumya atau kembali kepada rel yang pernah dilakukan “yang pernah ada“ namun yang menjadi permasalahan ketetapan yang ada sebelumnya belum ada sehingga reformasi menjadi samar-samar tanpa bentuk. Begitu juga reformasi yang dilakukan oleh institusi Polri yang merupakan bagian dari reformasi nasional, reformasi menuju masyarakat sipil (communty policing) bentuk riil-nya belum ada sehingga yang terjadi bukan kembali kepada aturan yang pernah ada namun membangun sebuah pranata baru dengan pendekataan reformasi yang mencakup structural, instrumental dan cultural.


Salah satu produk membangun Reformasi Polri adalah Undang-Undang Nomor 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, dimana pada pasal 13 yaitu : Polri sebagai salah satu fungsi pemerintahan negara di bidang pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum, perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat. dan Undang-Undang Nomor 22 tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan.


Dalam pelaksanaan khususnya tentang lalu lintas dan angkutan jalan berupa Turjagwali lalu lintas di tingkat KOD masih sering terjadi penyimpangan salah satu penyebabnya adalah moral petugas yang belum baik. Apabila dikaitkan dengan teori kepribadian menurut Sigmund Freud (1997), jiwa atau kondisi phsikis manusia mempunyai bentuk yang disebut struktur kepribadian, yang unsurnya terdiri dari id, ego dan superego. Panduan ketiga unsur ini secara serasi membentuk kesimbangan jiwa yang perwujudannya adalah perilaku yang baik, yang sesuai dengan norma moral atau memenuhi tuntutan etika dan orang menyebutnya; dia bersikap etis.


Id yaitu manusia dalam hidupnya selalu memiliki nafsu yang memerlukan pemuasan rasa lapar, haus, keinginan sex juga pengalaman-pengalaman yang sangat mendasar bagi manusia. Bentuk-bentuk lainnya adalah dorongan-dorangan, naluri, keinginan-keinginan yang muncul secara spontan dan tiba-tiba, itu semua merupakan bagian dari kepribadian yang oleh Freud diberi nama Id. Sedangkan Ego atau aku, berkembang dari Id melalui kesadaran atas lingkungan. aktivitasnya dapat berbentuk prasadar, sadar, dan tidak sadar. Persepsi lahiriah (melihat, mendengar, dll), persepsi batiniah (sedih, gembira, dll) dan persepsi intelektual adalah bentuk aktivitas sadar. Karenanya sebagian besar hidup manusia terisi dengan bentuk sadar.Unsur terakhir yang dikemukakan Freud pada struktur kepribadian adalah superego yang bertugas mensensor tindakan, perasaan, dorongan keinginan dan lain-lain.


Pentingnya moral petugas Turjagwali yang baik dalam melaksanakan tugasnya karena dengan moral yang baik akan bersikap dan berperilaku etis dengan hati nurani dalam pelaksanaan kegiatan Turjagwali sebagaimana teori kepribadian tersebut diatas. Adapun bentuk penyimpangannya dalam kegiatan Turjagwali dapat di lihat dari beberapa aspek : Kejujuran, Sifat kejujuran baik kepada diri sendiri berupa masih pura-pura baik kepada tersangka, padahal di balik kepura-puraannya tersebut tersimpan niat buruk untuk mendapatkan sesuatu/ ada pamrih, petugas yang demikian ini sudah tidak jujur pada hati nuraninya. Tidak jujur kepada orang lain hal ini dapat diketahui dari masih adanya pemerasan kepada masyarakat pengguna jalan. Konsistensi Dan Keteguhan Dalam Pendirian, Belum semua petugas Polri memiliki sifat konsisten/ teguh dalam berpendirian, sifat belum konsistennya ini terlihat dengan tidak mempunyai tujuan yang jelas sehingga setiap langkahnya sering melenceng dari tujuan yang ditetapkannya, cenderung menunggu perintah atasannya, kurang inisiatif dan inovatif, Kurang menghargai waktu, sehingga sering molor dan tidak terjadwal secara baik, serta kurang bersikap sabar sering mengedepankan emosionalnya dan cenderung mudah marah. Sifat Yang Kurang Terampil, Baik terampil dalam administratif maupun terampil dalam bidang operasional di lapangan taktis dan teknis kepolisian, sehingga terkesan tidak prosedural dan kurang profesional serta berakibat terjadi penyimpangan dalam proses penegakkan hukum dan pelayanan kepada masyarakat., Sifat Yang Kurang Dapat Dipercaya, Sifat ini dapat terlihat dengan kurang bertanggung jawab terhadap apa yang telah diperbuatnya, kegiatan petugas sangat kurang munculnya kreativitas baru dan sangat sedikit petugas yang rela berkorban bagi kepentingan organisasi maupun masyarakat. Kecintaan Kepada Sesama/Masyarakat, Kecintaan kepada masyarakat ditandai dengan adanya rasa saling menghormati kepada sesama, namun demikian ada beberapa justru sering merendahkan orang lain. Hal ini disebabkan kemampuan berkomunikasi kurang dan cenderung tidak kuat dalam menghadapi tekanan. Selain itu cenderung bekerja sendiri-sendiri dan masih belum dapat bekerja sama dengan orang lain secara harmonis.


Dalam rangka meningkatkan kesadaran moral petugas Turjagwali guna mewujudkan profesionalisme dalam melaksanakan tugas yaitu dengan melaksanakan langkah-langkah pembinaan mental dan disiplin yang meliputi peningkatan pembinaan disiplin anggota khususnya petugas Turjagwali. Pembinaan disiplin yang dilaksanakan kepada petugas Turjagwali di tingkat KOD dengan melaksanakan pembinaan rohani, pembinaan idiologi dan pembinaan mental.


Pembinaan Rohani (Bin rohtal), tujuannya adalah pertama agar terjalin hubungan antara anggota Polri dengan Tuhannya, Hubungan dengan Tuhan dilandasi niat dan perasaan ikhlas, selalu berserah diri pada Yang Maha Kuasa melalui ibadah, melaksanakan perintah dan meninggalkan larangannya (pasal 3, Peraturan Kapolri No. 7 tahun 2006 tentang Kode Etik Profesi Polri, Etika kepribadian). Kedua hubungan dengan masyarakat, Pemahaman bahwa manusia sama derajatnya dihadapan Tuhan Yang Maha Esa, Selalu membina dan menjalin persaudaraan, Selalu bersikap sopan santun, memberi pertolongan, pengayoman dan pelayanan pada yang lemah. Ketiga hubungan dengan diri sendiri, Bersikap teguh dalam menegakkan prinsip-prinsip kebenaran, tabah menghadapi cobaan, menghindari pemborosan, keangkuhan, sombong, takabur dan mampu mengendalikan diri.
Implementasinya adalah melaksanakan pengajian rutin secara perpindah-pindah di Polsek-polsek jajaran sehingga anggota dapat menyatu dengan masyarakat serta dapat menerima siraman rohani dalam pengajian rutin tersebut. Selain itu disetiap hari kamis di minggu pertama dan ketiga dilaksanakan ceramah rohani pada pagi hari setelah pelaksanaan apel pagi, kegiatan ini juga dimaksudkan untuk menambah keteguhan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.


Pembinaan Idiologi ditujukan untuk membentuk, memelihara dan meningkatkan kesadaran dan kebanggaan nasional yang berlandaskan Pancasila, berpedoman kepada Etika Kepolisian dalam rangka pencapaian tujuan. Implementasinya adalah memberikan pengarahan dan pencerahan kepada seluruh anggota dalam pelaksanaan apel fungsi setiap minggu pada hari Jumat. Hal ini dimaksudkan agar anggota khususnya petugas Turjagwali dapat selalu merasa diayomi, dilayani dan dilindungi oleh atasannya.


Pembinaan Bidang Mental Psikologis, upaya pembinaan ditujukan untuk membentuk, memelihara dan meningkatkan keseimbangan Jiwa, sehingga terwujud kepribadian anggota yang stabil, percaya diri dan tidak mudah terombang ambing oleh pengaruh Iingkungan. Implementasinya melaksanakan test psikologi terhadap petugas Turjagwali secara berkala dan anggota Polri yang akan menjadi petugas Turjagwali diseleksi dengan test psikologi untuk mengetahui bakat dan karakter serta kondisi psikologinya.
Wasdal dan reward and punishment. Dalam pelaksanaan pembinaan rohani, pembinaan idiologi dan pembinaan mental diperlukan pengawasan dan pengendalian oleh satuan atas di tingkat KOD sehingga reward and punishment dapat dijalankan.

No comments: